Selasa, 02 Juli 2013

gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi prematur berdasarkan karakteristik ibu




                                                                         BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bayi dengan berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat badan lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi. (Proverawati, A. dan C. Ismawati  2010)
BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan. Prematur merupakan bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat lahir kurang dari 2500 gram, serta sebagian besar organ tubuhnya juga belum berfungsi dengan baik. Oleh karena itu prematur termasuk dalam BBLR karena kelahirannya yang masih dini sehingga berat badan janin yang dilahirkan kurang dan belum cukup umur. (Depkes RI, 2009)
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran didunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering di negara-negara berkembang atau sosial ekonomi rendah secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibandingkan pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Kejadian BBLR pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama pada masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan kurang. Namun kejadian BBLR juga dapat terjadi tidak hanya karena aspek perekonomian, dimana kejadian BBLR dapat saja terjadi pada mereka dengan status perekonomian yang cukup. Hal ini dapat berkaitan dengan paritas, jarak kelahiran, dan pemanfaatan pelayanan antenatal. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan diabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di masa depan. (Proverawati, A. dan C. Ismawati  2010)
Data SDKI 2007 derajat kesehatan anak di Indonesia masih perlu di tingkatkan, ditandai oleh Angka Kematian Bayi (AKB) 34/1000 KH, Sedang menurut hasil Riskesdas 2007, penyebab kematian bayi baru lahir 0 – 6 hari di Indonesia adalah gangguan pernapasan (37%), prematuritas (34%), sepsis (12%), Hipotermi (7%), kelainan darah/ikterus (6%), post matur (3%), dan kelainan kongenital (1%). Penyebab kematian bayi 7 – 28 hari adalah sepsis (20,5%,) kelainan congenital (19%), pneumonia (17%), prematuritas (14%), ikterus (3%), cedera lahir (3%), tetanus (3%)dan defisiensi nutrisi (3%). Angka tersebut masih jauh dari target MDG’s tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup Oleh karena itu, upaya penurunan AKB perlu memberikan perhatian yang besar pada upaya penyelamatan bayi baru lahir dan penanganan penyakit infeksi. (Depkes RI, 2009)
AKB Jawa Timur tahun 2005-2010 turun dari 36,65 (tahun 2005) menjadi 29,99 per 1.000 kelahiran hidup (BPS, tahun 2010). Penyebab utama kematian bayi yakni mengalami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare dan komplikasi prenatal atau komplikasi sebelum kelahiran. (Dinkes Jatim, 2010). Dan untuk kabupaten Sidoarjo pada tahun 2009 terdapat 11,12/1000 kelahiran hidup. (Dinkes Kab. Sidoarjo, 2009)
Berdasarkan catatan medik, jumlah ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di RSIA KIRANA pada bulan Juli - Desember tahun 2011 adalah 34 bayi dengan BBLR, disebabkan oleh 20 bayi dengan prematur, dan 14 bayi dengan IUGR. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan maret 2012 kepada 10 respoden ibu yang memiliki bayi prematur, didapatkan 5 ibu memiliki pengetahuan kurang, 3 ibu memiliki pengetahuan cukup dan 2 ibu memiliki pengetahuan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak ibu yang pengatahuannya kurang dalam melaksanakan perawatan bayi prematur.
Upaya pemerintah pada tahun 2000 dalam menurunkan AKB adalah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010 yang merupakan bagian dari program Safe Motherhood. Tujuan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer (MPS) sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. (www.docstoc.com/SAFE-MOTHERHOOD)
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang “ Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum tentang Perawatan Bayi Prematur Berdasarkan Karakteristik Ibu di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kirana, Sepanjang ”



1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum tentang Perawatan Bayi Prematur Berdasarkan Karakteristik Ibu di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kirana, Sepanjang ?

1.3  Tujuan
1.3.1  Tujuan Umum
Mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum tentang Perawatan Bayi Prematur Berdasarkan Karakteristik Ibu di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kirana, Sepanjang.
1.3.2  Tujuan Khusus
1.   Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi prematur di RSIA Kirana
2.   Mengidentifikasi usia ibu post partum di RSIA Kirana
3.   Mengidentifikasi pendidikan ibu post partum di RSIA Kirana
4.   Mengidentifikasi paritas ibu post partum di RSIA Kirana
5.   Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi prematur berdasarkan usia ibu di RSIA Kirana
6.   Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pendidikan ibu di RSIA Kirana
7.   Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi prematur berdasarkan paritas ibu di RSIA Kirana

1.4  Manfaat
1.4.1  Teoritis
Untuk mengembangkan profesi kesehatan dalam memberikan asuhan kebidanan pada pasien ibu post partum tentang  perawatan bayi prematur.
1.4.2  Praktik
Untuk menambah pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi prematur sehingga dapat meningkatkan kesehatan bayi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar